Contact Us | Privacy Policy | Terms Of Service
Terbaru

24 Nov 2013

To Panrita Dalam Masyarakat Bugis

24 Nov 2013 - Dikilasinfokan Oleh : Sri Widyastuti Rusli ·

wija panrita
Secara etimologis, to panrita berarti orang yang menyaksikan. Kata "panrita" bisa berarti ahli secara teori dan teknis, seperti tercermin dari ungkapan panrita lopi (ahli dalam merancang dan membuat perahu). Setahu saya belum ada penelitian semantik atas konsep to panrita, saya menduga kata to panrita memiliki hubungan epistemologis dengan -jika bukan elaborasi- kata Sanskerta "pandita", yang agaknya juga melahirkan kata "pendeta". Faktanya, dalam banyak hal, sosok seorang pandita memang identik dengan peran sosok to panrita dalam masyarakat Bugis. Menurut Mochtar Pabottingi, to panrita adalah orang yang bersaksi, melihat dan menyimak suatu keadaan dan menyatakan keadaan sebenarnya. Di sini, to panrita bukan saja berperan sebagai pengamat yang objektif atas keadaan di sekitarnya, tapi juga memberi penilaian, kritik dan pertimbangan atas suatu keadaan. Dengan makna ini, tidak berlebihan jika to panrita diidentikkan dengan konsep cendekiawan (intelektual) dalam terminologi modern.

Kualitas dan kapasitas utama to panrita bisa disimpulkan dari paseng (petuah) Ma'danrengnge ri Majauleng yang bernama La Tenritau: "Aja' nasalaiko acca sibawa lempu" (Janganlah engkau kehilangan kecakapan dan kejujuran). Yang dimaksud La Tenritau dengan acca adalah kemampuan mengerjakan semua pekerjaan dan menjawab semua pertanyaan serta kecakapan berkata-kata baik, logis dan lembut sehingga menimbulkan kesan baik pada orang lain. Sementara lempu adalah pola pikir dan prilaku yang selalu benar, tabiat baik dan ketakwaan kepada Puang Seuwae (Tuhan Yang Maha Esa).

Dalam perspektif masyarakat Bugis, integrasi kecerdasan dan kejujuran merupakan kualifikasi penting setiap calon pemimpin. Ketika Arumpone (Raja Bone) ditanya tentang pangkal kecerdasan (appongenna accae), Kajao La Liddong -seorang cendekiawan dan mahapatih raja Bone- menjawab: "lempue" (kejujuran). Kajao La Liddong juga menyebut kejujuran raja (lempuna Arung Mangkaue) sebagai salah satu di antara tellu tanranna nasawe ase (syarat keberhasilan panen padi).

Menurut Andi Zainal Abidin, karena memiliki wewenang memperingatkan raja dan para pembantunya, to panrita menjadi faktor penting yang turut membatasi kekuasaan raja. Sebagai contoh, sebelum dilantik jadi datu Soppeng ke-9, Lamannussa' To Akkarangeng mendatangi sejumlah to panrita, termasuk To Ciung Maccae (XV-XVI) di Luwu, guna mempelajari ilmu kepemimpinan. Salah satu paseng To Ciung kepada Lamannussak adalah: "Jagaiwi balimmu wekka siseng, mujagaiwi rangeng-rangengmu wekka sisebbu, nasaba' rangeng-rangengmu tu matu' solangiko" (Zainal Abidin, 1999:105) (Waspadailah lawan-lawanmu satu kali, waspadailah kawan-kawanmu seribu kali. Sebab yang terakhir inilah yang bisa membuatmu rusak). To Ciung juga menganjurkan Lammannussa' sesekali berkonsultasi dengan to panrita tentang masalah-masalah yang perlu diselesaikan dengan matang karena to panrita mengatakan banyak kebenaran (Obbi’i to accae tassiseng-siseng mutanaiwi, nasaba’ maegatu tongeng napau).

Di antara nama-nama to panrita yang kerap muncul dalam wacana orang-orang tua Bugis karena pesan-pesan mereka yang universal dan perenial -seperti direkam dalam Lontara- adalah To Ciung Maccae di Luwu (Abad XV), Nene' Maggading di Suppa' (abad XV), La Tiringeng To Taba' di Wajo (Abad XV), La Waniaga Arung Bila di Soppeng (Abad XVI), Nene' Pasiru' (Abad XV) dan La Pagala Nene' Mallomo (Abad XVI) di Sidenreng, La Mellong Kajao La Liddong di Bone (abad XVI), Karaeng Bottolempangang di Gowa (abad XVII), dan I Mangadacinna Daeng Sitaba Kareang Pattingalloang di Gowa-Tallo (abad XVII).

Mereka mewujudkan diri sebagai sosok to panrita par excellence, seorang cendekiawan dan negarawan yang bijaksana dan cerdas, ahli hukum yang tegas, jujur dan tidak terbius kekuasaan dan kekayaan serta sangat mencintai rakyatnya. Tidak aneh, petuah-petuah mereka ratusan tahun silam tampak masih relevan ditelaah sebagai sumber inspirasi dan pedoman dalam menata kehidupan sosial, hukum, politik dan pemerintahan di masa kini, baik di tingkat lokal maupun nasional.

Setelah hampir seluruh kerajaan di Sulsel terislamisasi secara struktural pada awal abad ke-17, konsep to panrita tampaknya juga mengalami perkembangan. Kini to panrita lebih banyak merujuk kepada sosok ulama. Suatu hal yang tak mengherankan, mengingat setelah kedatangan Islam muncullah para ulama yang mengambil alih peran to panrita. Ulama tidak saja menguasai ilmu-ilmu keislaman, tapi juga memahami masalah kejiwaan, kesehatan, sosial, hukum, budaya dan politik yang muncul dalam masyarakatnya.

Dalam bidang sosial, hukum, budaya, agama dan kekuasaan politik, peran to panrita dalam masyarakat Bugis sangatlah sentral. Hubungan harmonis dan saling menghargai antara para arung dan to panrita adalah salah satu faktor penting sehingga beberapa kerajaan tradisional Bugis dapat mencapai puncak kegemilangan dalam fase-fase tertentu sejarah mereka. Prinsip sipakalebbi (saling menghormati), sipakatau (saling menghargai), dan sipakainge’ (saling mengingatkan) antara arung dan to panrita benar-benar terpelihara. 


Tags: to panrita, wija panrita

© 2013 KilasInfo.com. All rights reserved. | Member Of Agatossi Media